ahmad sukron

Tantangan Tata Kelola Sumberdaya Air di Kabupaten Pasuruan

DSC06180

Bagaimana tata kelola pemanfaatan sumberdaya air di Kabupaten Pasuruan? Sejauh apa peran pemerintah dan DPRD dalam mengatur tata kelola? Serta problem-problem apa yang menjadi kendala dalam pengelolaan sumberdaya air di Kabupaten Pasuruan? 3 pertanyaan kunci ini disampaikan oleh Levi Riansyah dalam Focus Group Discussion (FGD) kelompok III Sekolah Demokrasi 2015, saat setelah fasilitator membuka sesi perkenalan Pukul 10.15 WIB pada hari Rabu 13 Mei 2015 di RM. Apung Sukabumi Kolursari Bangil.

media silaturahmi FGD yang di fasilitatori oleh Makhfud Syawaluddin membahas tata kelola sumberdaya air di Kabupaten Pasuruan, kali ini dihadiri oleh ; H. M. Rusdi Sutejo Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan, Soedarseno perwakilan Dinas Pengairan & Pertambangan Kabupaten Pasuruan, Faisal Irjik perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Koes Bambang selaku Ketua Paguyuban Penjual Air Tangki Desa Njawi Prigen, Abdus Syukur dari PWI sebagai perwakilan pers, Syihabuddin salah satu tim riset Surapati Community serta Kartini Luki ,  M. Unsuri Ainul Wafa, Abdullah Assegaf, Nurul, Wawan, Siska dan Khozin dari Kelompok 3 Sekolah Demokrasi (SD) 2015.

Diskusi santai ini cukup gayeng setelah pertanyaan pertama disampaikan kepada Rusdi tentang regulasi tata kelola sumberdaya air di Kabupaten Pasuruan, menurutnya ada angin segar tentang regulasi pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pertanggal 24 Februari 2015 karena di komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan sering mendapatkan pengaduan dari masyarakat masalah Air dan Limbah, kami sudah mengagendakan RAPERDA tentang konsevasi sumberdaya air. Faisal menambahkan regulasi yang akan dibuat ini jangan sampai mematikan industry yang ada. Padahal tatakelola sumberdaya air di Kabupaten Pasuruan carut marut ini terbukti masyarakat banyak keluhan karena kekurangan air, dan disisi lain masyarakat kebanjiran air. “Ini menunjukkan tidak ada tata kelola yang baik”, ujar salah satu peserta SD 2105 selanjutnya dipertegas oleh Syukur yang baru datang.

“Dari awal saya memimpin asosiasi mulai tahun 2006 di daerah pandaan prigen sudah ada 22 titik Penjual Air Tangki sampai sekarang lebih dari 50 titik yang melai proses ijin hanya Desa Njawi Prigen ini sebenarnya potensi besar bila dikelola dengan baik, yang tercatat dalam portal saja 1×24 jam lebih dari 2000 mobil tangki padahal harga air pertangki Rp. 10.000,- ini harus diatur”, imbuh Koes Bambang sambil menegaskan.

“Membuat aturan itu mudah tapi yang sulit adalah implementasinya. Tantangan di lapangan bukan hanya menghadapi preman perusahaan tetapi atasan kami juga ikut memberikan perintah”, tutur Rusdi yang juga di benarkan dengan pengalaman Khozin sebagai Kepala Desa Baujeng.

Hampir seluruh peserta yang hadir FGD memberikan rekomendasi adanya aturan yang tegas. “Rekomendasi ini jangan sampai keluar dari 6 prinsip putusan MK”, ucap Soedarseno sambil bacakan putusan.

Ahmad Sukron

Pastikan hari esok lebih baik dari hari sekarang…..!!!

2 Responses

  1. Unsuri Ainul Wafa
    Unsuri Ainul Wafa May 20, 2015 at 8:51 am |

    Konten tulisannya sudah bagus. Saran bagi editor, lebih diperhatikan lagi terkait tata cara penulisannya. Penggunaan huruf Kapital, titik, koma, dll. Mungkin sebaiknya mengacu pada tatanan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar (EYD).
    Mohon maaf, bukan menggurui, saran ini semata-mata agar nilai tulisan kita lebih kelihatan lebih berbobot lagi.

    hehehe….
    I Love u…ckckckck

    Reply
  2. Unsuri Ainul Wafa
    Unsuri Ainul Wafa May 20, 2015 at 8:53 am |

    Izin Share….tapi saya perbaiki ya…hehehe..

    Reply

Leave a Reply